ISOLASI MANDIRI BUKAN LOMBA LARI.

Beberapa bulan lalu saya pernah menjalani isolasi mandiri sebagai akibat terkonfirmasi positif Covid19. Ya, saya bersyukur pernah ada dalam situasi itu--sebuah kondisi yang paling orang lain takuti tapi justru mengurai banyak keingintahuan saya.

Apakah saya tidak punya rasa takut? Ah bohong kalau saya bilang tidak mengalami takut, cemas, dan perasaan semacam akan mati esok hari. Apalagi bila melihat berita di televisi atau berita utama di situs pencari yang kadang terlalu berlebihan.

Yang membuat saya begitu tertarik adalah saya pada akhirnya bisa bercerita pada banyak orang tentang apa yang saya alami, kemudian mencari celah apa yang kemudian bisa saya bagikan karena saya yakin mencari testimoni di situs pencari sangat menyeramkan.

.

Di awal isolasi saya banyak berbincang dengan rekan sesama penyintas. Menanyakan kabar dan saling menguatkan, terkadang membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting tetapi justru sangat menyenangkan. Dari situ saya sadar bahwa yang paling diperlukan oleh penyintas adalah lingkungan yang supportif. Beban seorang penyintas tentu saja selain kondisi kesehatannya sendiri adalah kekhawatiran terhadap kontak erat satu rumah, belum lagi ada saja yang masih mencari celah kemungkinan alasan kenapa kita bisa terpapar ini, dan spekulasi netizen yang maha benar lainnya. Ya, perlu ada support group yang memberi dukungan penuh pada penyintas Covid19. Kita gak bisa berjuang sendiri.

.

Selama masa isolasi saya mempergunakan waktu dengan membaca buku yang bahkan belum sempat saya lepas sampul plastiknya, membuat beberapa tulisan berisi pengalaman dan pedoman isolasi mandiri yang saya kumpulkan dari berbagai sumber yang dipercaya, membuat obrolan di igtv dengan mengundang narasumber dari berbagai bidang demi bisa mencicipi bagaimana asyiknya terhubung dengan dunia luar meski saya tetap di dalam. Semuanya itu saya lakukan demi bisa menghidupkan nalar saya karena tanpanya saya mungkin bisa kaku di kamar yang luasnya tak lebih dari 3 x 6 meter persegi.

.

Di minggu kedua saya mencoba peruntungan dengan melakukan swab konfirmasi di sebuah Rumah Sakit milik pemerintah di Cawang, Jakarta Timur. Hasilnya cukup mengejutkan, bahwa dengan segala protokol ketat yang saya terapkan tetap saja saya masih POSITIVE. Kecewa? Pasti. Saya merasa gagal saat itu. Mencoba mengoreksi apa yang terlewati dari semua usaha yang saya lakukan selama isolasi. Sepertinya tidak ada celah yang membuat saya masih positif kala itu. Saya tidak menemukan kecacatan saya dalam menjalani proses yang mulai menjemukan ini. Saya begitu terobsesi ingin mendapatkan predikat NEGATIVE setelah saya akrab dengan kata POSITIVE dalam beberapa kali pemeriksaan.

.

Pada akhirnya saya menyadari, semakin saya menginginkan hasil NEGATIVE saya semakin terbebani. Saya menjadi seperti sedang lomba lari dengan diri saya sendiri. Apalagi bila mendengar status kawan lain yang sudah NEGATIVE, semakin saya terpuruk seakan tertinggal jauh di lintasan belakang. Saya terbunuh oleh perasaan yang saya buat sendiri.

.

Rasa bersalah membuat saya merubah pola pikir bahwa akan ada masanya saya mendapat predikat alumnus COVID19. Bahwa di hampir 3 minggu isolasi, kondisi saya baik dan itu patut saya syukuri. Bahwa setelah ini saya akan memiliki kekebalan alamiah yang belum tentu orang lain memilikinya. Bahwa kondisi POSITIVE dengan gejala ringan adalah keberuntungan saya, berapa banyak orang yang mengalami perburukan bahkan sejak diawal infeksinya. Bahwa saya memiliki banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang sebelumnya tidak kebagian waktu. Bahwa banyak sekali pertemanan baru sebagai akibat seringnya terhubung pada dunia maya. Bahwa akan semakin banyak cerita yang bisa saya bagikan kelak ke teman-teman yang memerlukan.

.

Ya ternyata dengan mengubah sedikit sudut pandang dari menuntut(entah pada apa) untuk segera NEGATIVE menjadi sebuah penerimaan(dengan tanpa mengurangi usaha)pada kondisi yang sedang kita jalani jauh lebih menyenangkan dan menenangkan. Saya menjadi lebih ikhlas, dan menjalani sisa masa isolasi dengan lebih happy. Semua akan NEGATIVE pada waktunya.

.

Tulisan ini didedikasikan untuk para pejuang NEGATIVE Covid19.

Comments

Popular posts from this blog

MEMILIH MINYAK MASAK UNTUK HIDUP LEBIH SEHAT

KENALAN DENGAN ISTILAH BARU DALAM TATALAKSANA COVID-19