Isolasi Mandiri, Kapan selesainya?
Kemarin, 15 September 2020 adalah hari terakhir isolasi mandiri saya setelah saya mengisolasi diri selama 15 hari yaitu sejak 1 September 2020. Lantas akan banyak netizen bertanya, ” Ah, masa sih? Kok cepet banget? Memang sudah yakin sembuh? Kapan test lagi? Aku kan takut ketularan kamu!”
Nah buat kamu yang belum tahu
duduk perkaranya, mari saya jelaskan. Penjelasan yang saya tulis ini berdasarkan
uraian dari Tonang Dwi Ardyanto,dr.,Sp.PK.,Ph.D seorang ahli Patologi Klinik di
Universitas Sebelas Maret.
Pada tanggal 31 Agustus saya
melakukan rapid test massal di lingkungan tempat saya bekerja dan hasilnya igM
saya reaktif. Oleh gugus tugas Covid-19 saya langsung diberikan rujukan untuk
melakukan swab di Puskesmas terdekat dari tempat tinggal. Tanggal 2 September
saya melakukan swab dan melanjutkan isolasi mandiri sambal menunggu hasil swab
keluar. Tanggal 6 September saya terkonfirmasi positif.
Beberapa orang bertanya gejala
apa yang saya rasakan? Saya mengalami kondisi hilang
pembau (anosmia) dan hilang perasa (ageusia). Gejala ini tidak diikuti oleh
kondisi lain seperti batuk, pilek, apalagi demam. Saya pun tidak menyangka
bahwa kondisi ini ternyata yang menjadi pertanda bahwa sudah ada virus Covid-19
di tubuh saya. Sesekali saya merasa sedikit lemas, saya fikir karena keletihan.
Beberapa kali sempat keluar keringat dingin saya fikir udara yang panas
sehingga saya berkeringat. Ini separuhnya merupakan hasil fase denial saya
terhadap logika berfikir yang memaksa saya menerima bahwa sesungguhnya ada yang
aneh terjadi pada saya. Tapi sekali lagi saya tak pernah menyangka bahwa ada
Covid-19 di tubuh saya.
Kalau
dari gambaran tersebut kira-kira pada tanggal berapakah saya berpotensi
menularkan? Berdasarkan penjelasan dr
Tonang, fase kontak erat terjadi pada H-2 sebelum terkonfirmasi positif pada
pasien tanpa gejala atau pada H-2 sebelum timbul gejala sampai 14 hari
kemudian. Pada fase ini bila terjadi kontak erat tanpa alat pelindung diri maka
kemungkinan akan terinfeksi.
Bila
kemudian di tracing beberapa orang yang kontak dengan saya pada fase kontak
erat sebelum saya mengetahui status Kesehatan saya, kemudian ditemukan ada 1
orang tanpa gejala yang ternyata terkonfirmasi positif apakah berarti saya yang
menularkan? Tidak selalu, bisa jadi
sebaliknya. Kok bisa? Itulah mengapa pada saat ini kita tidak bisa menuding seseorang yang
positif sebagai tertuduh yang pasti akan menularkan virus, karena ini seperti
bertanya lebih dulu mana ayam atau telur. Bisa jadi si orang tanpa gejala yang
baru teridentifikasi berkat tracing kontak erat dengan sayalah yang sebenarnya lebih
dulu terinfeksi. Hanya saja karena ia tak bergejala sehingga tidak tampak. Karenanya
simpan baik-baik kalimat “saya tertular dari dia” karena bisa saja yang terjadi
adalah sebaliknya.
Kemudian
berapa hari saya harus menjalani isolasi? Berdasarkan
gejala, kondisi yang saya alami masuk
kategori gejala ringan maka saya bisa melakukan isolasi mandiri di rumah yaitu
selama 10 hari sejak pengambilan specimen terkonfirmasi positif ditambah tiga
hari bebas gejala. Artinya Isolasi mandiri saya berakhir di 15 Sepetember 2020.
Pada kasus tanpa gejala isolasi mandiri cukup dilakukan selama 10 hari saja.
Yakin
sudah sembuh? Nanti kita ketularan loh… Apa tidak dilakukan test lagi untuk memastikan? Berdasarkan Pedoman Kemenkes terbaru bahwa follow up PCR pada pasien
konfirmasi tanpa gejala atau gejala ringan dan sedang tidak perlu dilakukan.
Pemeriksaan follow up hanya dilakukan pada pasien yang berat. Untuk kondisi berat pada hari ke 7 akan
dilakukan swab untuk menilai kesembuhan, dan 10 hari kemudian untuk follow up.
Bila klinis membaik dan bebas demam 3 hari meskipun hasil PCR masih positif
dapat diakatakan kondisi pasien tidak infeksius (nilai CT > 30 menunjukkan yang
terdeteksi adalah fragmen atau partikel virus).
Jadi tidak
semua kasus terkonfirmasi harus dilakukan follow up saat selesai isolasi
mandiri? Ya benar. Standarnya dilakukan PCR terhadap 1 orang per 1000 orang
permingu. Di Indonesia dibutuhkan 268.583 per minggu atau 38.000 perhari.
Kemampuan kita saat ini hanya lebih kurang 18.000 per hari.
Kalau
misalnya, pada 5 September karena saya penasaran atau mencari second opinion lalu
saya melakukan swab dan hasilnya negatif, berarti saya selesai isolasi? Yang perlu diluruskan adalah itu bukan second opinion.
Disebut second opinion bila pada pengambilan specimen tanggal 2 September
dilakukan pengujian di dua tempat yang berbeda. Hasil negative di tanggal 5
inipun tidak berlaku untuk mengakhiri masa isolasi lebih awal. Karena untuk
mengakhiri masa isolasi lebih awal adalah hari dua kali PCR negatif. Bila hanya
satu kali test negative dilakukan awal waktu yaitu tanggal 5 September tadi,
maka saya harus tetap menuntaskan isolasi hingga 15 September 2020.
Selama
saya isolasi mandiri apakah keluarga saya di isolasi mandiri juga? Segala puji bagi Allah bahwa semua anggota keluarga di
rumah saya menunjukkan hasil negatif maka mereka kita kategorikan sebagai
kelompok yang sehat. Memisahkan individu yang sehat namun memiliki Riwayat kontak
disebut Karantina Mandiri. Isolasi mandiri dan karantina mandiri sama-sama
bertujuan untuk mengurangi resiko penularan.
Apakah
setelah saya dinyatakan selesai isolasi mandiri berarti saya bebas melakukan
apa saja? Selepas isolasi mandiri kita
harus Kembali pada dunia nyata dimana akan banyak sekali orang yang berpotensi
memiliki virus didalam tubuhnya baik yang bergejala maupun tak bergejala. Kurang
lebih 14 hari kita habiskan tanpa merasa khawatir karena kita terpisah jauh.
Setelahnya tentu kita harus lebih menerapkan protokol Kesehatan, pakai masker,
jaga jarak, dan rajin cuci tangan.
Nah gimana, apakah sudah lebih mengerti? Semoga tulisan ini bisa menjawab keingintahuan kamu soal kapan mengakhiri isolasi mandiri. Dan bila kamu adalah orang yang sedang menjalani isolasi mandiri, tentu saja ini bisa menjadi bekal kamu untuk menjawab pertanyaan netizen ya….(emoticon senyum lebar). Sampai bertemu lagi dalam tulisan berikutnya. Salam.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteInformasi yang bagus + bentuk visual video youtube or instagram pasti lebih ok
ReplyDeleteLampirin link nya aja biar banyak membantu yang lain