ISOLASI MANDIRI, MUNGKINKAH?

 

Apa yang kamu fikirkan bila kamu mendapat kabar bahwa kamu terkonfirmasi positif Covid19? Takut, sedih dan bingung ? Ya, mau tidak mau sebuah keputusan besar harus kamu ambil. Sebuah keputusan yang kalau kamu salah memilihnya bisa jadi akan membawa petaka bagi keluargamu. Pilihannya saat ini kamu bisa diisolasi di Rumah Sakit Rujukan bila mengalami gejala yang masuk dalam derajat sedang seperti demam, batuk, sesak dan nafas cepat. Namun bila kamu tidak memiliki gejala khusus atau mengalami gejala ringan seperti anosmia(hilang pembau) dan ageusia(hilang perasa), maka kamu bisa memilih Wisma Atlet Kemayoran atau melakukan isolasi mandiri di rumah.

WISMA ATLET KEMAYORAN SEBAGAI RUMAH SAKIT DARURAT COVID19

Wisma Atlet Kemayoran semula merupakan tempat menginap atlet. Tempat ini pernah digunakan sebagai tempat menginap atlet yang mengikuti Pesta Olahraga Asia 2018 dan Pesta Olahraga Difabel Asia 2018 untuk perlombaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kompleks ini dibangun di tanah seluas 10 hektare, yang terdiri dari sepuluh bangunan menara dengan jumlah 7.424 kamar. Total kapasitas akomodasi sebesar 22.272 atlet di perkampungan ini melebihi standar Komite Olimpiade Internasional, yang mengharuskan tuan rumah Olimpiade untuk menyediakan kamar bagi 14.000 atlet.

Pada 18 Maret 2020, Kementerian Keuangan menetapkan kawasan Wisma Atlet sebagai tempat isolasi pasien dengan gejala ringan penyakit COVID-19. Setelah dilakukan renovasi, ruangan rumah sakit darurat di empat menara Wisma Atlet sudah bisa digunakan sejak 23 Maret. Dengan kapasitas hingga 3.000 ranjang, rumah sakit darurat ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia dalam rangka penanganan pasien terkait pandemi koronavirus.

ISOLASI MANDIRI DI RUMAH, AMANKAH?

Sebelum kita berbicara aman atau tidaknya, sebaiknya kita tahu dulu apakah Coronavirus itu? Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).

Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Atau bisa juga seseorang terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tertular dari virus ini  yaitu dengan disiplin menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak aman minimal 1 meter, serta tak lupa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) salah satunya dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

Pada prinsipnya tujuan isolasi mandiri adalah untuk memutus rantai penularan pada kasus kontak erat, terinfeksi tanpa gejala sampai ringan, dan probable. Boleh tidaknya seseorang melakukan isolasi mandiri akan ditentukan oleh petugas. Selama melakukan isolasi mandiri maka kondisi pasien akan selalu dimonitor, dan waktu selesai isolasi mandiri ditentukan oleh petugas.

Bila anda memilih isolasi mandiri, sangat dianjurkan untuk melakukan deteksi dini salah satunya dengan mencatat gejala yang anda rasakan. Ukur suhu tubuh dengan Thermometer dan saturasi oksigen dalam sel darah merah dan detak jantung dengan Pulse Oxymeter. Laporkan pada petugas bila anda mengalami gejala yang bertambah buruk misalnya suhu tubuh yang tinggi atau nilai saturasi yang kurang dari seharusnya. 

KEUNTUNGAN ISOLASI MANDIRI

Karena isolasi dilaksanakan di rumah, tentu saja kita masih memiliki akses untuk tetap berada di lingkungan keluarga. Selain itu kita masih bisa melakukan aktivitas di kamar tempat isolasi, misal mengerjakan hobi yang disukai seperti menulis, membaca buku, atau menonton film. Tugas atau pekerjaan kantor yang tertunda pun bisa dikerjakan dengan memanfaatkan teknologi. Dengan suasana yang nyaman seperti ini pasti kita bisa menghabiskan masa karantina dengan hati yang tenang, seperti kita tahu bahwa hati yang tenang adalah salah satu kunci penyembuhan. Kecanggihan teknologi telekomunikasi juga memungkinkan petugas Kesehatan untuk mengawasi pemulihan kita selama di rumah.

KELEMAHAN ISOLASI MANDIRI

Meskipun banyak keuntungannya, isolasi mandiri bukan tanpa kelemahan. Bila pasien kurang disiplin atau menjadi lengah karena merasa sudah sehat maka akan sangat beresiko menularkan kepada  anggota keluarga yang lain. Hal yang kurang baik juga bisa terjadi bila lingkungan rumah kurang kondusif, misalkan perdebatan suami istri yang dipicu suatu hal, anak- anak yang masih membawa teman-temannya main ke rumah padahal sudah dilarang, dll. Tentunya kondisi tersebut akan berpengaruh pada proses pemulihan selama isolasi mandiri. Stigma negative yang seringkali datang dari tetangga kiri kanan yang ketakutan berlebihan juga sangat berpengarug pada kondisi psikis selama menjalani isolasi mandri. Padahal seperti kita tahu bahwa kondisi hati bisa mempengaruhi system imun.

MENYIAPKAN KAMAR SEBAGAI TEMPAT MELAKUKAN ISOLASI MANDIRI YANG AMAN

Pilih kamar dengan ventilasi yang baik, kamar dengan jendela dimana sinar matahari bisa masuk adalah pilihan terbaik. Lebih baik lagi bila jarak kamar untuk isolasi letaknya jauh dari kamar yang lain. Misal kamar untuk isolasi berada diatas, sedangkan keluarga yang lain berada di bawah. Kamar tidak perlu luas tapi cukup nyaman untuk ditempati selama 14 hari. Mempunyai ruang gerak yang cukup untuk sekedar melakukan peregangan atau olahraga ringan di pagi hari.

Batasi pergerakan terutama di luar kamar isolasi. Semua aktivitas harus  dilakukan di kamar baik makan, nonton televisi, membaca, dan tidur tentu saja. Apabila harus keluar kamar pastikan masker selalu dipakai dan minimalisir menyentuh benda-benda di luar kamar isolasi kecuali setelah memastikan tangan kita bersih karena baru saja dicuci dengan sabun atau kenakan sarung tangan.

Harus diusahakan untuk tidak berbagi ruang pribadi seperti kamar mandi. Pasti tidak mungkin kita mengenakan alat pelindung diri di kamar mandi, dan bisa dipastikan kita membuang ludah atau kumur-kumur di tempat ini. Maka sangat riskan menurut saya untuk berbagi kamar mandi dengan orang lain di dalam rumah.

Lakukan pembersihan kamar isolasi dengan campuran air dan desinfektan dengan jumlah yang cukup dengan rutin. Sapu dan pel kamar agar mengurangi debu sehingga kamar lebih nyaman dan bersih. Lap permukaan yang sering tersentuh dengan cairan desinfektan. Jangan biarkan tumpukan baju kotor memenuhi ruangan kamar, segera cuci secara terpisah dengan baju kotor anggota keluarga yang lain. Gunakan tempat sampah yang tertutup untuk menampung sampah di kamar isolasi.

Bagaimanapun juga mencegah lebih baik daripada mengobati. Namun bila akhirnya kita harus menjalani kenyataan sebagai pasien terkonfirmasi tetaplah berpikir secara positif. Pikiran yang positif akan menggiring kita pada perilaku yang mendukung kesembuhan kita nantinya. Terlepas dari itu semua tetaplah berdoa karena segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa izinNya.

 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MEMILIH MINYAK MASAK UNTUK HIDUP LEBIH SEHAT

KENALAN DENGAN ISTILAH BARU DALAM TATALAKSANA COVID-19

ISOLASI MANDIRI BUKAN LOMBA LARI.