Pejuang Hati Sudahkah Merdeka?


 

Indonesia sudah  berusia 75 tahun. Di usianya yang tak lagi muda, sudah banyak pencapaian terutama dalam kemajuan pengobatan untuk penyintas gangguan hati. Sejak tahun 2006 atau 14 tahun lalu, RS Kariadi pernah melakukan transplantasi hati anak dan berhasil. Anak beruntung itu bernama Ulung Hara Hutomo. Saat itu usianya sekitar 1 tahun 3 bulan. Ia menjadi pasien anak pertama yang berhasil di transplantasi di Indonesia, meski 4 tahun setelah operasi besar itu dilakukan, Ulung harus menyudahi perjuangannya.

Tahun 2010 RS Cipto Mangunkusumo mengibarkan bendera kejayaannya dengan keberhasilan melakukan transplantasi hati pada orang dewasa dengan pendonor adalah anaknya sendiri. Tak bisa dipungkiri keberhasilan tersebut menjadi tonggak awal program transplantasi hati di RS yang Namanya diambil dari seorang dokter pejuang di masa colonial yaitu dr.Cipto Mangunkusumo. Sampai saat ini sudah ada 51 pasien anak yang berhasil menjalani transplantasi hati disana.

Meski sebelumnya transplantasi hati juga pernah dimulai di RS Adam Malik Medan dan RS dr. Soetomo, Surabaya, namun pada akhirnya hanya RS Cipto Mangunkusumo yang melanjutkan program tersebut. Suka tidak suka, terjadi sentralisasi untuk prosedur transplantasi hati. Apa akibatnya? Pasien dari seluruh penjuru nusantara mengadu nasib di ibukota. Dan ini menjadi masalah sosial sendiri. Banyak tantangan yang harus dihadapi sekaligus oleh para Pejuang Hati yang mengadu nasib kesembuhan di ibukota. Tempat tinggal, biaya hidup, biaya keperluan medis yang tak tertanggung Jaminan Kesehatan, dan lain-lain.

Jadi hanya itu saja? Sebenarnya masih banyak masalah yang belum terurai dalam perjuangan para Pejuang Hati ini. Salah satunya minimnya informasi mengenai deteksi dini yang bisa dibilang sudah mengakar karena tidak hanya masyarakat awam yang tidak tahu, tetapi banyak praktisi di dunia Kesehatan yang juga masih minim pengetahuannya tentang penyakit ini. Pekerjaan rumah yang lebih besar lagi adalah sulitnya mencari pendonor. Pada banyak kasus, orangtua tidak dapat memberikan secuil hati untuk anaknya karena alasan faktor Kesehatan. Minimnya informasi di tengah masyarakat tentang donor hati menyebabkan sulitnya mencari pendonor pengganti. Mendengar kata donor hati pun masyarakat masih sangat asing. Dalam hal ini, Yayasan Rumah Satu Hati sebenarnya sudah mulai mengkampanyekan tentang deteksi dini dan donor hati, namun kiranya peran pemerintah masih sangat kurang dalam hal ini. Sehingga isu yang sebenarnya sudah berhembus sejak lama ini masih saja kurang populer di masyarakat. Belum adanya Yayasan atau organisasi atau Lembaga yang memfasilitasi donor organ(kecuali mata) juga belum ada di Indonesia sampai hari ini.

Masih jauh perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bagi Pejuang Hati. Namun harapan besar tetap terpatri, bahwa negara akan segera hadir dalam perjuangan para penyintas gangguan hati ini.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MEMILIH MINYAK MASAK UNTUK HIDUP LEBIH SEHAT

KENALAN DENGAN ISTILAH BARU DALAM TATALAKSANA COVID-19

ISOLASI MANDIRI BUKAN LOMBA LARI.