Self-Compassion – Sebuah Upaya Penerimaan Diri
Pernah gak kamu menghakimi diri sendiri atas sebuah kegagalan atau kejadian buruk yang menimpamu? “Ini semua karena aku yang ceroboh, kalau aku lebih pintar pasti tidak akan seperti ini, kejadian buruk ini terjadi karena aku.” Bandingkan bila hal itu terjadi pada orang lain, biasanya kita akan lebih berbelas kasih. “yang sabar ya, ini sudah takdir, suatu hari kamu pasti bisa berhasil, semua sudah semestinya,” Dan banyak sekali perbendaharaan kata untuk menghibur teman yang kesulitan. Kenapa kita begitu? Kenapa kita cenderung lebih kejam pada diri sendiri?
Sebenarnya menghargai diri sendiri tidak
berbeda dengan memiliki rasa welas asih untuk orang lain. Memiliki welas asih
juga berarti kita menawarkan pengertian dan kebaikan kepada orang lain ketika
mereka gagal atau membuat kesalahan, daripada menghakimi mereka dengan kasar. Itu
berarti Anda menyadari bahwa penderitaan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan
adalah bagian dari pengalaman manusia bersama.
Dalam istilah psikologi dikenal istilah
Self Compassion, yaitu sebuah cara
yang kita lakukan untuk tetap berlaku baik terhadap diri sendiri. Alih-alih
mengkritik tajam diri sendiri (self-judgment) atas sebuah kegagalan atau
ketidakberdayaan diri, kita memilih untuk tetap memberikan kebaikan,
pengertian, dan belas kasih terhadap diri sendiri dengan penuh pemahaman.
Pemahaman bahwa penderitaan, kegagalan, ketidakmampuan, ketidaksempurnaan
adalah bagian dari pengalaman semua manusia.
Ada beberapa komponen dalam self compassion, yaitu Self -kindness, common humanity,dan mindfulness.
a. Self-kindess
Adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan menerima diri apa adanya serta memberikan kelembutan, tidak menyakiti atau menghakimi diri sendiri. Self-kindess membuat seseorang menjadi hangat terhadap diri sendiri ketika menghadapi rasa sakit dan kekurangan pribadi, memahami diri sendiri dan tidak menyakiti atau mengabaikan diri dengan mengkritik dan menghakimi diri sendiri ketika menghadapi masalah.
b. Common humanity
Common humanity adalah kesadaran bahwa individu memandang kesulitan, kegagalan, dan tantangan merupakan bagian dari hidup manusia dan merupakan sesuatu yang dialami oleh semua orang, bukan hanya dialami diri sendiri. Komponen mendasar kedua dari self-compassion adalah pengakuan terhadap pengalaman manusia bersama. Common humanity mengaitkan kelemahan yang individu miliki dengan keadaan manusia pada umumnya, sehingga kekurangan tersebut dilihat secara menyeluruh bukan hanya pandangan subjektif yang melihat kekurangan hanyalah milik diri individu. Begitupula dengan masa-masa sulit, perjuangan, dan kegagalan dalam hidup berada dalam pengalaman manusia pada keseluruhan, sehingga menimbulkan kesadaran bahwa bukan hanya diri kita sendiri yang mengalami kesakitan dan kegagalan di dalam hidup. Penting dalam hal ini untuk memahami bahwa setiap manusia mengalami kesulitan dan masalah dalam hidupnya.
C. Mindfulness
Mindfulness adalah melihat secara jelas, menerima, dan menghadapi kenyataan tanpa menghakimi terhadap apa yang terjadi di dalam suatu situasi. Mindfulness mengacu pada tindakan untuk melihat pengalaman yang dialami dengan perspektif yang objektif..
Seseorang yang memiliki self compassion yang baik, makai ia akan lebih mudah berfikiran positif, bisa memberi support pada orang lain, lebih mudah merasa bahagia, kondisi psikologis lebih sehat, dan penyelesaian masalah yang lebih baik. Sedangkan apabila sesorang memiliki self compassion yang rendah maka efeknya seseorang tersebut bisa menjauhkan diri karena merasa dirinya yang paling menderita di dunia dan mengkritik atau menghakimi diri sendiri atau self judgement. Yang tak kalah buruk adalah reaksi ekstrim atau reaksi berlebihan individu ketika menghadapi suatu permasalahan disebut sebagai over identification karena terlalu fokus pada keterbatasan diri sehingga pada akhirnya menimbulkan kecemasan dan depresi.
Yang perlu digarisbawahi bahwa pola asuh ternyata merupakan salah satu penyebab rendahnya self compassion seseorang. Pola asuh yang dimaksud antara lain mereka yang masa kecilnya seringkali dipenuhi kritikan, emossional abuse, dan kekerasan di masa kanak-kanak. Nah bila ini terjadi pada anda yakinilah, bahwa sejarah bukan kesalahan kita namun masa depan adalah tanggung jawab kita. Maka berusahalah untuk lebih berbaik hati dan berkasih sayang terhadap diri, yakinilah bahwa semua manusia punya episode terbaik dan terburuk dalam hidupnya, lalu terimalah itu secara utuh.

Comments
Post a Comment